gravatar

Potlot Bujel

Memulai dari diri sendiri, memulai dari yang kecil, memulai dari sekarang. Sebuah rangkaian kata-kata (sepengetahuan kami) yang dipopulerkan oleh seorang AA Gym ini bagi kami memiliki nilai yang indah dan bermakna, sebuah hikmah yang berbuah motivasi dan inspirasi yang luar biasa. Dalam maknanya terdapat aksi dari seseorang untuk berusaha menjadi uswah hasanah, mengajak dengan hikmah, melakukan hal yang baik dengan cara yang paling sederhana dan menghindarkan diri dari menunda-nunda.

Berbicara mengenai uswah hasanah, kami teringat dengan sebuah cerita dari salah seorang Ulama di sela-sela acara pengajian di daerah Sleman, Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut Beliau mengisahkan tentang pelajaran yang beliau ambil dari kisah keseharian seorang Ayah dan anak, ketika itu, Sang Ayah meminta buah hatinya untuk membeli pensil ke warung sebelah. Sang Ayah berkata: “Anakku yang pintar, tolong belikan ayah pensil ‘seperti ini’ di warung sebelah, ini uangnya”, sambil menyerahkan sebuah pensil. Beberapa saat kemudian, anaknya yang masih kecil itu sampai di rumah, kemudian ia menyampaikan sesuatu kepada Ayahnya, “Ayah …, di warung sebelah tidak ada yang seperti ini”. “hmm … , ya udah gak papa, terimakasih ya nak”. Sejenak kemudian Sang Ayah terheran-heran, karena setiap kali lewat warung itu, beliau melihat dengan jelas sederetan pensil dengan berbagai jenisnya. Hmm … tak pelak hal ini membuat Sang Ayah penasaran.

Karena sangat membutuhkan pensil itu, kemudian sang Ayah keluar rumah untuk membeli pensil di tempat lain yang agak jauh. Pada saat melewat warung sebelah rumahnya, Sang Ayah melihat sederetan pensil yang cukup banyak. “lho …, tadi kata anakku kug g ada ya..??”, ia bertanya dalam hatinya, pada akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk membeli pensil di tempat yang lebih jauh, cukup menuju warung sebelah rumahnya saja.

gravatar

Sang Ustadz pun berguru padanya

Rambutnya gimbal, celana jeans-nya dihiasi dengan beberapa sobekan. yach ... itulah gambaran sekilas seorang "fadhil", mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di pelosok Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sedikit sangar memang... tapi senyuman simpul tak jarang menghiasi wajahnya.

Sore itu adalah hari ke-tiga bulan ramadlon, fadhil datang ke sebuah pesantren mahasiswa tuk mencari pembicara dalam sebuah agenda, program unit KKN-nya. "Assalamu'alaikum ... tok, tok, tok", fadhil berdiri di depan pintu asrama santri. "Wa'alaikum salam ...", dari dalam terdengar seseorang menjawab salamnya. "Maa Syaa Alloh ...!!!", spontan ia berdzikir. Betapa kagetnya fadhil ..., melihat sosok yang tiba-tiba keluar dari salah satu kamar santri, yach ... santri tersebut adalah teman seangkatan dikampusnya, rahmat namanya.

gravatar

Malu bertanya ..???, yach cari jawaban dgn cara yg berbeda

Sebuah catatan...

Pernah kehilangan arah?, kesasar atau kehilangan peta dan tidak tahu harus ke mana?. hmmm .. sama seperti anda, kami pun juga. Pengalaman ini juga terjadi kemaren (11/04) ketika kami berkendara menuju lokasi yang belum kami tempuh sebelumnya. Setelah mengikuti petunjuk yang ada, kondisi di lapangan ternyata kurang sama persis dengan apa yang digambarkan sebelumnya, akhirnya .... "jurus jitu nan baku" pun dikeluarkan, apa itu ... ??? .... TANYAAAA .... ^_^.

Sederhana memang, sebuah pertanyaan sebenarnya memiliki potensi untuk pengembangan sebuah pengetahuan, minimal apa yg tersebunyi menjadi terkuak dan terlihat sehingga bisa dimaksimalkan. Mungkin kita tahu hal ini sejak masih kecil atau kanak-kanak, seringkali guru kita di sekolah mengutarakan di akhir pelajaran, ... "Anak-anak ...., ada yang mau bertanya ..???", tak jarang murid-murid pun terdiam, memberikan sejuta jawaban, yach ... antara paham dan tidak mengerti apa yang disampaikan. begitulah ..., namun hal ini sungguh menarik untuk menjadi sebuah kesempatan yg senantiasa dimunculkan, sehingga suatu saat kelak .. para murid akan senantiasa berpikir,meski hanya tersbesit ... memikirkan pertanyaan apa yang akan dilontarkan .., menjawab sebuah tawaran dari guru/orang-orang sekitar.

gravatar

i love pesantren


Sedikit bercerita, diambil dan diperkaya dari kisah nyata salah seorang sahabat, smoga bermanfaat

"Kang ... !!! (Panggilan "kakak" ala pesantren salaf di jawa), tahu nggak, aku cinta pesantren. Mungkin suatu saat, aku akan sangat merindukan suasana pesantren". Angga membuka pembicaraan di tengah-tengah istirahat bersama setelah agenda Olahraga Futsal di sebuah pesantren. Menanggapi pernyataan sedikit "lebay" dari sahabatnya, Kang Brahma pun berkomentar "Ah ... yang benerrr ???, ente (panggilan hasil gubahan dari bahasa arab "Anta" yang berarti kamu, biasanya digunakan sebagai salah satu simbol keakraban di kalangan santri) pernah bilang dulu .... mo boyong (istilah keluar/lulus/putus dari pesantren), katanya mending nge-kos ..., lebih bebas, iya kan?". "yeeeee ... itu dulu, ...", Angga menjawab.

Suasana obrolan pun semakin menarik, dengan kisah ...proses perubahan keputusan Angga. Dalam penjelasannya (lebih tepatnya ... curhat kalee yach.. ^_^), Angga mengungkapkan ... bahwa pada masa-masa awal kuliah dan hidup di pesantren ia merasa sangat tertekan ... dan ingin segera keluar dari pesantren, Hal ini berawal ketika kedua orangtuanya menyarankan untuk masuk pesantren deket kampusnya. Maklum ... seumur-umur ia belum pernah mengenyam pendidikan ala pesantren, setelah lulus SD, ia melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA dekat rumahnya, yang konon belum tersentuh suasana pesantren. Ketika menginjak bangku kuliah, ia merasa keberatan, selain jauh dari rumah ..., perubahan suasana menuju keseharian ala pesantren dengan aturan-aturan yang ada, membuat hidupnya tak lagi nyaman, ...versi hati kecilnya.

Di tengah semester ke-tiga masuk pesantren, Angga pun merasa telah memiliki cukup alasan tuk boyong dan pindah ke kost-an. Nilai semesteran yang di bawah standar ... menjadi alasan utama, di tambah jadwal ngaji ba'da subuh dan maghrib ..., telah merenggut sebagian waktunya tuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah.., yang kian hari ... kian bertambah. Ia merasa tidak bebas kemana-mana, harus ijin ..., musthi pamit bahkan lapor ketika ada tamu dan agenda yang tak biasa, terutama dalam jangka waktu yang lama. Apalagi menikmati gairah pemuda (seperti yang banyak ia temui di lingkungan teman-teman kuliahnya) ..., punya pacar yang bisa dibawa jalan kemana-mana, jikalau ketemu Ustadz, wah .... bisa kena marah. "huft ... menyebalkan, gw mahasiswa gitu lho ...", hati usilnya berkata.

Makin lama ... makin kuat keinginan Angga tuk segera "boyong" dari pesantren, akhirnya di awal ujian semester ke-tiga ia mulai mencoba impian dalam angan-angannya. Tidak langsung "boyong" ..., Angga pamit kepada pengasuhnya di pesantren untuk aktif di luar selama ujian semester-an. Ia belajar, tidur dan menghabiskan waktunya di kost-an teman sekelasnya. Hingga pada minggu ke-dua ... , tanpa sengaja ia bertemu dengan Salah seorang sahabatnya dari pesantren, Brahma namanya, di sebuah warung makan yang tak jauh dari kampusnya.

Mulanya Angga ragu-ragu tuk menyapa, "haduh .. gawattt !!, Malu ah ... dah lama gak ngaji", hati kecilnya berkata. Tiba-tiba ... "Assalamu'alaikum .. !!!!, Angga ... kemana saja kug jarang kelihatan, sibuk yach ...???" Kang Brahma menyapa sembari menepuk bahu Angga, seakan-akan terjadi gempa dihatinya, sahabat yg ia hindari karena malu, ternyata menyapa dengan "Grapyak"nya. "hmmm .... , anu Kang, i i iya .. sibuk ujian kampus", terbata-bata Angga menjawabnya. Brahma langsung memposisikan diri duduk di samping Angga, sembari menunggu pesanan makanan. Basa-basi pun berlalu ..., pembicaraan pun entah sampai hingga kemana, mulai dari kegiatan nge-Kostnya hingga kesibukan kuliah, yang pasti pada suatu titik Angga melontarkan sebuah pertanyaan kepada Brahma, tentang apa yang sedang menggelayuti hatinya, membuat perasaannya mendung, dan benar-benar membuat bingung.

"Kang boleh nanya gak, mo konsultasi neh ...???", Angga melontarkan sebuah pertanyaannya kepada Brahma, seniornya. "Boleh-boleh, santai saja lageeeee ...", Brahma mempersilahkan tanpa keberatan. Percakapan menarik pun dimulai.

gravatar

Lilin waktu

Sore itu mendung begitu pekat, hujan sedemikian derasnya turun dari langit ditemani oleh dzikir geledek yang bersahutan, tak kalah anginpun memainkan perannya, menghempaskan segala yang menghalangi jalannya, memberikan pertanda bahwa Tuhannya sangatlah kuasa dan perkasa di atas segala-galanya.

Duarrrr ... !!!!, Ledakan keras terdengar dari kejauhan, sesaat kemudian lampu-lampu di komplek pesantren tempat kami tinggal serempak padam. "Innalillah .... Pasti suara travo meledak tuh ...", salah seorang teman mengomentari kejadian barusan. "hmmm ... bisa lama neh nunggu nyala lagi ...., bisa-bisa gak ngaji ntar malem", teman yg lainpun tak ketinggalan berkomentar. Maklum saat itu kami tengah kumpul, istirahat ... ,setelah beraktifitas seharian, di salah satu sudut "Guthekan" (kamar santri).

Beberapa teman datang datang kemudian, sambil membawa rebana ... mengisi waktu dengan latihan seni hadrah. Bukannya tak tertarik, waktu itu ku merasa terlalu lelah, hingga ku putuskan untuk keliling antar "guthekan" di blok yang sama. ..., maklum hujan di luar belum reda, dan lampu listrik belom nyala.

Tiba-tiba dari kejauhan kulihat ada yang berbeda di sebuat sudut "guthekan", yach ... cahaya yang tak begitu terang dihiasi suara bergumam (yang pasti ... ini bukan cerita horor lhooo ^_^). Perlahan ku mendekat, mengobati rasa penasaran. Akhirnya setelah beberapa langkah, sampailah di tempat tujuan. Separuh pintu terbuka, sehingga apa yang terjadi di dalam terlihat demikian jelasnya ..., Salah seorang santri sedemikian seriusnya mempersiapkan hafalan Alqurannya, meski hanya berbekal api kecil sebuah lilin yang menyala.

nuansa harmoni

nuansa harmoni
jual rumah siap bangun Jogja tipe 36

Entri Populer Bulan ini

Views